T2 : Standard dan Panduan untuk audit sistem informasi serta prinsip-prinsip dasar proses audit SI
RESUME
MATERI AUDIT TEKNOLOGI INFORMASI
Disusun untuk memenuhi tugas
Mata Kuliah
: Audit Teknologi Informasi
Dosen
Pengampu : Kurniawan B. Prianto, S. Kom.
SH. MM.
Oleh :
Ervan Maulana Fernando (10120354)
KELAS 4KA21
PROGRAM STUDI SISTEM INFORMASI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2024
Memahami
standard dan panduan untuk audit sistem informasi
POKOK
BAHASAN : ISACA IS AUDIT STANDARDS AND GUIDELINES-COBIT 5
Sifat khusus dari audit dan jaminan sistem
informasi (SI) serta keterampilan yang diperlukan untuk melakukan penugasan
tersebut memerlukan standar yang berlaku khusus untuk audit dan jaminan SI.
Pengembangan dan penyebaran standar audit dan jaminan IS merupakan landasan
kontribusi profesional ISACA kepada komunitas audit.
Standar audit dan jaminan IS menentukan
persyaratan wajib untuk audit IS. Mereka melaporkan dan menginformasikan:
- Profesional audit dan jaminan IS dengan tingkat kinerja minimum
yang dapat diterima yang diperlukan untuk memenuhi tanggung jawab
profesional yang ditetapkan dalam Kode Etik Profesional ISACA
- Harapan manajemen dan pihak berkepentingan lainnya dari profesi
mengenai pekerjaan praktisi
- Pemegang persyaratan Certified Information Systems Auditor (CISA).
Kegagalan untuk mematuhi standar-standar ini dapat mengakibatkan
penyelidikan terhadap perilaku pemegang CISA oleh Dewan Direksi ISACA atau
komite yang berwenang dan, pada akhirnya, tindakan disipliner.
Ø STANDAR AUDIT DAN JAMINAN IS
Standar tersebut dibagi menjadi tiga kategori:
·
Standar
umum (seri 1000) — Merupakan
prinsip panduan di mana profesi jaminan sistem informasi beroperasi.
Prinsip-prinsip ini diterapkan pada pelaksanaan semua penugasan dan berhubungan
dengan etika, independensi, objektivitas dan kehati-hatian profesional dalam
audit dan penjaminan sistem informasi, serta pengetahuan, kompetensi dan
keterampilan.
·
Standar
kinerja (seri 1200) —Mengurus
pelaksanaan penugasan, seperti perencanaan dan pengawasan, pelingkupan, risiko
dan materialitas, mobilisasi sumber daya, pengawasan dan manajemen penugasan,
bukti audit dan jaminan, serta pelaksanaan pertimbangan profesional dan
kehati-hatian.
·
Standar
pelaporan (seri 1400) —Menangani
jenis laporan, sarana komunikasi dan informasi yang dikomunikasikan.
Harap
diperhatikan bahwa pedoman ini berlaku efektif tanggal 1 September 2014.
·
Umum
1001 Piagam Audit
1002 Independensi Organisasi
1003 Independensi Profesional
1004 Harapan Wajar
1005 Kecermatan Profesional
1006 Kemahiran
1007 Asersi
1008 Kriteria
· Kinerja
1201 Perencanaan Penugasan
1202 Penilaian Resiko dalam Perencanaan
1203 Kinerja dan Pengawasan
1204 Materialitas
1205 Bukti
1206 Penggunaan Pekerjaan Tenaga Ahli Lain
1207 Penyimpangan dan Perbuatan Ilegal
· Pelaporan
1401 Pelaporan
1402 Kegiatan Tindak Lanjut
Ø PEDOMAN AUDIT DAN JAMINAN IS
Pedoman ini dirancang untuk secara langsung
mendukung standar dan membantu praktisi mencapai keselarasan dengan standar.
Standar tersebut mengikuti kategorisasi yang sama dengan standar (juga dibagi
menjadi tiga kategori):
·
Pedoman umum
(seri 2000)
·
Pedoman kinerja
(seri 2200)
·
Pedoman
pelaporan (seri 2400)
Piagam Audit
·
Umum
2001 2002 Independensi Organisasi
2003 Independensi Profesional
2004 Harapan Wajar
2005 Due Professional Care
2006 Kemahiran
2007 Asersi
2008 Kriteria
·
Kinerja
2201 Perencanaan Penugasan
2202 Penilaian Risiko dalam Perencanaan
2203 Kinerja dan Pengawasan
2204 Materialitas
2205 Bukti
2206 Menggunakan Pekerjaan Tenaga Ahli lain
2207 Ketidakteraturan dan Perbuatan Ilegal
2208 Pengambilan Sampel
·
Pelaporan
2401 Pelaporan
2402 Kegiatan Tindak Lanjut
POKOK
BAHASAN : ITIL AUDIT STANDARDS
Standar
Audit ITIL merujuk pada proses pemeriksaan dan evaluasi yang digunakan untuk
menilai sejauh mana suatu organisasi atau unit bisnis telah menerapkan dan
mematuhi praktik-praktik ITIL (Information Technology Infrastructure Library).
ITIL adalah seperangkat praktik terbaik dalam manajemen layanan TI yang
digunakan oleh organisasi untuk mengelola layanan TI mereka dengan lebih
efektif dan efisien.
Standar
audit ITIL biasanya mencakup evaluasi terhadap berbagai aspek implementasi
ITIL, termasuk tetapi tidak terbatas pada:
1. Kepatuhan
terhadap proses-proses yang ditentukan dalam ITIL, seperti manajemen perubahan,
manajemen kapasitas, manajemen kejadian, dan lain-lain.
2. Efektivitas
penggunaan proses-proses ITIL dalam meningkatkan pengiriman layanan TI dan
memenuhi kebutuhan bisnis.
3. Penilaian
terhadap kesesuaian sistem, prosedur, dan praktik operasional dengan
prinsip-prinsip ITIL.
4. Identifikasi
peluang untuk perbaikan dan peningkatan dalam implementasi ITIL.
Standar
audit ITIL dapat membantu organisasi untuk mengevaluasi kematangan dan
efektivitas penggunaan praktik-praktik ITIL dalam lingkungan TI mereka, serta
mengidentifikasi area di mana perbaikan diperlukan. Hal ini juga dapat membantu
organisasi untuk memastikan bahwa mereka mematuhi persyaratan dan standar yang
ditetapkan dalam praktik ITIL.
Sumber
: (https://www.linkedin.com/advice/0/what-some-key-audit-standards-frameworks-you-follow-reference
dan https://www.knowledgehut.com/blog/it-service-management/itil-tools-and-techniques#itil-%E2%80%93-an-overview%E2%80%AF)
POKOK BAHASAN : KONSEP DASAR KONTROL DAN AUDIT SISTEM INFORMASI (SI)
Kontrol Sistem Informasi (SI) merupakan mekanisme yang dirancang untuk memastikan bahwa SI beroperasi dengan efektif, efisien, dan aman. Kontrol SI dapat membantu organisasi mencapai tujuannya, melindungi asetnya, dan memastikan keandalan data.
Jenis-jenis Kontrol SI:
- Kontrol Preventif: Dirancang untuk mencegah terjadinya kesalahan atau pelanggaran. Contohnya:
- Kontrol akses: Membatasi akses ke sistem dan data hanya kepada orang yang berwenang.
- Enkripsi data: Mengubah data menjadi format yang tidak dapat dibaca tanpa kunci dekripsi.
- Backup data: Membuat salinan data secara teratur untuk mencegah kehilangan data.
- Kontrol Detektif: Dirancang untuk mendeteksi jika terjadi kesalahan atau pelanggaran. Contohnya:
- Audit log: Merekam semua aktivitas yang terjadi dalam sistem.
- Rekonsiliasi data: Membandingkan data dari sumber yang berbeda untuk memastikan keakuratannya.
- Pengecekan checksum: Menghitung nilai checksum untuk data dan memverifikasinya untuk memastikan data tidak diubah.
- Kontrol Korektif: Dirancang untuk memperbaiki kesalahan atau pelanggaran yang telah terjadi. Contohnya:
- Pemulihan data: Memulihkan data dari backup jika terjadi kehilangan data.
- Tindakan disiplin: Memberikan sanksi kepada orang yang melanggar kebijakan SI.
- Perubahan prosedur: Mengubah prosedur SI untuk mencegah kesalahan atau pelanggaran yang sama terjadi di masa depan.
- Memastikan kepatuhan terhadap peraturan dan kebijakan.
- Menilai efektivitas dan efisiensi SI.
- Mengidentifikasi dan mengelola risiko SI.
- Meningkatkan keamanan dan keandalan SI.
- Membantu organisasi mencapai tujuannya.
- Audit Internal: Dilakukan oleh staf internal organisasi.
- Audit operasional: Menilai efektivitas dan efisiensi operasi SI.
- Audit kepatuhan: Memastikan kepatuhan SI terhadap peraturan dan kebijakan.
- Audit keamanan: Menilai keamanan SI dan mengidentifikasi risiko yang ada.
- Audit Eksternal: Dilakukan oleh pihak luar yang independen.
- Audit keuangan: Menilai apakah SI menghasilkan informasi keuangan yang akurat dan andal.
- Audit kinerja: Menilai apakah SI membantu organisasi mencapai tujuannya.
- Meningkatkan efektivitas dan efisiensi SI.
- Melindungi aset organisasi.
- Memastikan keandalan data.
- Meningkatkan keamanan SI.
- Membantu organisasi mencapai tujuannya.
- Sebuah bank menggunakan kontrol akses untuk membatasi akses ke sistem perbankannya hanya kepada karyawan yang berwenang.
- Sebuah perusahaan retail menggunakan enkripsi data untuk melindungi data pelanggannya dari akses yang tidak sah.
- Sebuah rumah sakit menggunakan audit log untuk mendeteksi aktivitas mencurigakan dalam sistem informasinya.
- Sebuah perusahaan manufaktur menggunakan rekonsiliasi data untuk memastikan keakuratan data keuangannya.
- Sebuah organisasi nirlaba menggunakan audit internal untuk memastikan kepatuhannya terhadap peraturan yang berlaku.
Sumber
: (https://media.neliti.com/media/publications/219156-pelaksanaan-kontrol-dan-audit-sistem-inf.pdf
dan https://www.mas-software.com/blog/apa-itu-audit-sistem-informasi)
POKOK
BAHASAN : PRINSIP-PRINSIP DASAR PROSES AUDIT SI
Audit adalah prosedur pemeriksaan yang sistematis dan ilmiah atas laporan keuangan suatu organisasi. Dan seperti prosedur ilmiah lainnya, audit juga mempunyai prinsip dan aturan tertentu yang mengaturnya. Prinsip-prinsip tersebut adalah Standar Audit atau Auditing and Assurance Standards (AAS). Sekarang mari kita lihat beberapa prinsip dasar yang mengatur Audit .
Prinsip Dasar yang Mengatur Audit
SA-200 menjelaskan sembilan prinsip dasar yang mengatur prosedur audit. Ini mencantumkan peran dan tanggung jawab auditor dan kode etik umumnya selama audit. Kita akan membahas prinsip-prinsip ini secara singkat.
1] Integritas, Independensi dan Objektivitas
Auditor harus jujur saat mengaudit, dia tidak boleh memihak organisasi. Ia harus tetap obyektif sepanjang seluruh proses, integritasnya tidak boleh membiarkan terjadinya malpraktek.
Prinsip penting lainnya adalah kemandirian. Jadi auditor tidak dapat mempunyai kepentingan apapun terhadap organisasi yang diauditnya, sehingga memungkinkan dia untuk selalu independen dan tidak memihak.
2] Kerahasiaan
Auditor memiliki akses ke banyak informasi keuangan sensitif organisasi. Penting baginya untuk menghormati sifat rahasia informasi dan dokumen tersebut.
Dia tidak boleh mengungkapkan informasi sensitif apa pun kepada pihak ketiga mana pun kecuali hal itu diwajibkan oleh hukum. Dan dia juga harus sangat berhati-hati dengan dokumen, sertifikat, dll. yang dipercayakan organisasi kepadanya.
3] Keterampilan & Kompetensi
Auditor harus berpengalaman dan terlatih dalam prosedur audit, yaitu harus memenuhi syarat sebagai auditor. Dan sebagai seorang profesional, dia harus selalu mengetahui perubahan terkini, pengumuman, peraturan, dll.
Jika perlu, dia dapat menjalani pelatihan dan lokakarya agar tetap mengikuti perkembangan prosedur audit dan akuntansi terkini. Misalnya, setelah GST diperkenalkan, auditor harus memperbarui pengetahuannya.
4] Pekerjaan yang Dilakukan oleh Orang Lain
Ruang lingkup audit terkadang bisa sangat luas. Jadi seorang auditor mempunyai karyawan, delegasi dan orang lain yang bekerja di bawahnya.
Namun, auditor akan tetap bertanggung jawab penuh atas pekerjaan yang dilakukan oleh orang-orang yang bekerja untuknya. Jadi auditor harus secara hati-hati mengawasi dan menelaah pekerjaan tersebut dan cukup yakin akan keakuratan pekerjaan tersebut.
5] Dokumentasi
Dalam kebanyakan kasus, auditor menyimpan buku catatan audit, rencana audit, dan file audit. Pentingnya auditor menyimpan catatan dokumen-dokumen penting sehubungan dengan pekerjaan auditnya, karena itu merupakan bukti pekerjaan yang telah dilakukan auditor. Dan klien rentan terhadap dokumen dan file ini jika dia ingin memeriksa pekerjaannya.
6] Perencanaan
Rencana audit memungkinkan auditor merencanakan pekerjaannya dan memungkinkannya menjadi lebih efisien dan tepat waktu. Setiap rencana audit berbeda karena harus disesuaikan menurut jenis organisasi, jenis bisnis yang mereka jalankan, ruang lingkup audit, efisiensi pengendalian internal, dll.
7] Bukti Audit
Auditor harus mengumpulkan cukup bukti untuk mendukung pendapat akhirnya. Pengumpulan bukti tersebut dilakukan melalui prosedur kepatuhan dan substantif. Ada dua sumber bukti ini – internal dan eksternal. Selain itu, sumber bukti eksternal selalu lebih dapat diandalkan.
8] Sistem Akuntansi dan Pengendalian Internal
Auditor harus memastikan bahwa rekening organisasi akurat dan mewakili gambaran yang benar dan adil tentang status keuangan perusahaan. Selain itu, auditor harus memastikan bahwa semua informasi material telah dicatat dalam akun. Menguji sistem pengendalian internal juga penting karena membantu menentukan hal yang sama.
9] Kesimpulan dan Pelaporan Audit
Setelah auditor mengumpulkan semua bukti, dia sekarang harus membentuk opininya berdasarkan kriteria berikut,
i. semua standar akuntansi yang relevan diterapkan setiap saat
ii. laporan keuangan telah mematuhi semua peraturan dan persyaratan undang-undang
iii. semua informasi material telah diungkapkan
Sumber : ( https://www.toppr.com/guides/accounting-and-auditing/concept-of-auditing/basic-principles-governing-an-audit/ )
POKOK
BAHASAN : STANDAR DAN PANDUAN AUDIT SI
Standart
Audit
Standar Audit SI tidak lepas dari standar
professional seorang auditor SI. Standar professional adalah ukuran mutu
pelaksanaan kegiatan profesi yang menjadi pedoman bagi para anggota profesi
dalam menjalankan tanggungjawab profesinya. Standar profesional adalah batasan
kemampuan (knowledge, technical skill and professional attitude) minimal yang
harus dikuasai oleh seseorang individu untuk dapat melakukan kegiatan
profesionalnya pada masyarakat secara mandiri yang aturan-aturannya dibuat oleh
organisasi profesi yang bersangkutan.
Panduan
Audit
Panduan yang dipergunakan dalam Audit Sistem
Informasi di Indonesia adalah Standar Atestasi, dan aturan-aturan yang
dikeluarkan oleh organisasi profesi akuntansi (IAI di Indonesia, AICPA di USA,
atau CICA untuk Kanada), maupun yang lebih khusus lagi, yaitu dari ISACA atau
IIA. Model referensi sistem pengendalian intern (internal controls
model/framework) lazi mnya adalah COBIT. Audit objectives
dalam audit terhadap IT governance (menurut COBIT adalah: effectiveness,
confidentiality, data integrity, availability, efficiency, dan realibility).
Karena yang diperiksa adalah tata-kelola Teknologi Informasi (IT governance),
maka yang diperiksa antara lain adalah Teknologi Informasi itu sendiri. Karena
itu istilah audit arround the computer dan audit through the computer tidak
relevan lagi di sini.
Berikut adalah beberapa dari Standard dan Paduan
Sistem Informasi yang biasa digunakan:
1.
ISACA
ISACA adalah suatu organisasi
profesi internasional di bidang tata kelola teknologi informasi yang didirikan
di Amerika Serikat pada tahun 1967. Awalnya dikenal dengan nama lengkap
Information Systems Audit and Control Association, saat ini ISACA hanya
menggunakan akronimnya untuk merefleksikan cakupan luasnya di bidang tata
kelola teknologi informasi. ISACA didirikan oleh individu yang mengenali
kebutuhan untuk sumber informasi terpusat dan bimbingan dalam bidang tumbuh
kontrol audit untuk sistem komputer. Hari ini, ISACA memiliki lebih dari
115.000 konstituen di seluruh dunia dan telah memiliki kurang lebih 70.000
anggota yang tersebar di 140 negara. Anggota ISACA terdiri dari antara lain
auditor sistem informasi, konsultan, pengajar, profesional keamanan sistem
informasi, pembuat perundangan, CIO, serta auditor internal. Jaringan ISACA
terdiri dari sekitar 170 cabang yang berada di lebih dari 60 negara, termasuk
di Indonesia.
·
Sifat khusus audit sistem informasi, keterampilan dan pengetahuan yang
diperlukan untuk melakukan audit SI memerlukan standar yang berlaku secara
global
·
ISACA berperan untuk memberikan informasi untuk mendukung kebutuhan
pengetahuan
·
Dalam famework ISACA terkait, audit sistem informasi terdapat Standards,
Guidelines and procedures
·
Standar yang ditetapkan oleh ISACA harus diikuti oleh auditor.
·
Guidelines memberikan bantuan tentang bagaimana auditor dapat menerapkan
standar dalam berbagai penugasan audit.
·
Prosedur memberikan contoh langkah-langkah auditor dapat mengikuti
penugasan audit tertentu sehingga dapat menerapkan standar.
·
Namun, IS auditor harus menggunakan pertimbangan profesional ketika
menggunakan pedoman dan prosedur.
2. IIA COSO
The Comitte of Sponsoring
Organizations of the treadway commission’s (COSO) dibentuk pada tahun 1985
sebagai alinasi dari 5 (lima) organisasi professional. Organisasi tersebut
terdiri dari American Accounting Association, American Instititue of Certified
Public Accountants, Financial Executives International, Instititute of
Management Accountants, dan The Institute of Internal Auditors. Koalisi ini
didirikan untuk menyatukan pandangan dalam komunitas bisnis berkaitan dengan
isu-isu seputar pelaporan keuangan yang mengandung fraud. Secara garis besar,
COSO menghadirkan suatu kerangka kerja yang integral terkait dengan definisi
pengendalian intern, komponen-komponennya, dan kriteria pengendalian intern
yang dapat dievaluasi. Pengendalian internal terdiri dari 5 komponen yang
saling berhubungan. Komponen-komponen tersebut memberikan kerangka kerja yang
efektif untuk menjelaskan dan menganalisa sistem pengendalian internal yang
diimplementasikan dalam suatu organisasi. Komponen-komponen tersebut, adalah
sebagai berikut:
1)
Lingkungan Pengendalian
Lingkungan pengendalian
menetapkan nada organisasi, mempengaruhi kesadaran kontrol dari orang-orangnya.
Ini adalah fondasi untuk semua komponen kontrol internal lainnya, menyediakan
disiplin dan struktur. Faktor lingkungan pengendalian termasuk integritas,
nilai-nilai etika, gaya operasi manajemen, pendelegasian sistem otoritas, serta
proses untuk mengelola dan mengembangkan orang dalam organisasi.
2)
Penilaian Resiko
Setiap entitas menghadapi
berbagai risiko dari sumber eksternal dan internal yang harus dinilai.
Prasyarat untuk penilaian risiko adalah pembentukan tujuan dan dengan demikian
penilaian risiko adalah identifikasi dan analisis risiko yang relevan dengan pencapaian
tujuan yang ditetapkan. Penilaian risiko merupakan prasyarat untuk menentukan
bagaimana risiko harus dikelola.
3)
Aktivitas Pengendalian
Aktivitas pengendalian adalah
kebijakan dan prosedur yang membantu memastikan arahan manajemen dilaksanakan.
Mereka membantu memastikan bahwa tindakan yang diperlukan diambil untuk
mengatasi risiko yang dapat menghambat pencapaian tujuan entitas. Aktivitas
kontrol terjadi di seluruh organisasi, di semua level dan di semua fungsi.
Mereka termasuk berbagai kegiatan yang beragam seperti persetujuan, otorisasi,
verifikasi, rekonsiliasi, tinjauan kinerja operasi, keamanan aset dan pemisahan
tugas.
4)
Informasi dan Komunikasi
Sistem informasi memainkan peran
kunci dalam sistem pengendalian internal karena mereka menghasilkan laporan,
termasuk informasi operasional, keuangan dan kepatuhan, yang memungkinkan untuk
menjalankan dan mengendalikan bisnis. Dalam arti yang lebih luas, komunikasi
yang efektif harus memastikan arus informasi turun, melintasi, dan naik ke
organisasi. Misalnya, prosedur formal ada bagi orang untuk melaporkan dugaan
penipuan. Komunikasi yang efektif juga harus dipastikan dengan pihak eksternal,
seperti pelanggan, pemasok, regulator dan pemegang saham tentang posisi
kebijakan terkait.
5)
Pemantauan
Sistem kontrol internal perlu
dipantau — suatu proses yang menilai kualitas kinerja sistem dari waktu ke
waktu. Ini dicapai melalui kegiatan pemantauan yang sedang berlangsung atau
evaluasi terpisah. Kekurangan kontrol internal yang dideteksi melalui kegiatan
pemantauan ini harus dilaporkan di bagian hulu dan tindakan korektif harus
diambil untuk memastikan perbaikan berkelanjutan dari sistem.
3. ISO 1799
ISO/IEC 17799:2005 menetapkan
pedoman dan prinsip-prinsip umum untuk memulai, menerapkan, mempertahankan, dan
meningkatkan manajemen keamanan informasi dalam sebuah organisasi. Tujuan yang
diuraikan menyediakan panduan umum pada umumnya diterima tujuan manajemen
keamanan informasi.
ISO/IEC 17799 : 2005 berisi
praktek-praktek terbaik tujuan pengendalian dan kontrol dalam bidang manajemen
keamanan informasi:
·
kebijakan keamanan;
·
organisasi keamanan informasi;
·
manajemen aset;
·
keamanan sumber daya manusia;
·
keamanan fisik dan lingkungan;
·
komunikasi dan manajemen operasi;
·
kontrol akses;
·
informasi sistem akuisisi, pengembangan, dan pemeliharaan;
·
manajemen insiden keamanan informasi;
·
manajemen kontinuitas bisnis;
·
kepatuhan.
Sumber
: (https://ardyanpp.wordpress.com/2020/10/05/standar-dan-panduan-audit-sistem-informasi/)
POKOK
BAHASAN : KONTROL INTERNAL RUANG LINGKUP KONTROL INTERNAL
Ruang lingkup kontrol internal meliputi seluruh aspek organisasi yang dapat memengaruhi pencapaian tujuan organisasi. Hal ini mencakup:
1. Lingkungan Pengendalian:
- Integritas dan nilai etika: Budaya perusahaan yang menekankan kejujuran, integritas, dan etika.
- Kompetensi staf: Memiliki staf yang kompeten dan terlatih untuk melaksanakan tugasnya.
- Struktur organisasi: Struktur organisasi yang jelas dan efektif, dengan pemisahan tugas yang tepat.
- Filosofi dan gaya manajemen: Filosofi dan gaya manajemen yang mendukung pengendalian internal.
- Kebijakan dan prosedur: Kebijakan dan prosedur yang jelas dan terdokumentasi untuk semua aktivitas organisasi.
2. Penilaian Risiko:
- Identifikasi risiko: Mengidentifikasi semua risiko yang dapat memengaruhi pencapaian tujuan organisasi.
- Penilaian risiko: Menilai kemungkinan terjadinya dan dampak dari setiap risiko.
- Respons risiko: Mengembangkan dan menerapkan respons yang tepat untuk setiap risiko.
3. Aktivitas Pengendalian:
- Pengendalian kebijakan: Kebijakan dan prosedur untuk mencegah atau mendeteksi dan mengoreksi kesalahan dan penyimpangan.
- Pengendalian fisik: Pengamanan aset fisik organisasi.
- Pengendalian catatan akuntansi: Menjaga keakuratan dan keandalan catatan akuntansi.
- Pengendalian akses: Membatasi akses ke aset dan informasi organisasi.
4. Informasi dan Komunikasi:
- Mengidentifikasi informasi yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan organisasi.
- Mengumpulkan dan memproses informasi secara akurat dan tepat waktu.
- Mengkomunikasikan informasi kepada pihak yang berkepentingan.
5. Pemantauan:
- Melakukan pemantauan secara berkala terhadap efektivitas pengendalian internal.
- Mengidentifikasi dan mengoreksi kelemahan dalam pengendalian internal.
- Meningkatkan pengendalian internal berdasarkan hasil pemantauan.
Ruang lingkup kontrol internal dapat bervariasi tergantung pada ukuran, kompleksitas, dan jenis organisasi.
Contoh Ruang Lingkup Kontrol Internal:
- Proses pengadaan: Memastikan bahwa barang dan jasa diperoleh dengan harga yang wajar, dari pemasok yang berkualitas, dan sesuai dengan kebutuhan organisasi.
- Proses penjualan: Memastikan bahwa penjualan dicatat secara akurat, kas diterima tepat waktu, dan piutang dagang dikelola dengan baik.
- Proses produksi: Memastikan bahwa produksi berjalan dengan efisien dan efektif, menghasilkan produk berkualitas tinggi, dan sesuai dengan anggaran.
- Proses pelaporan keuangan: Memastikan bahwa laporan keuangan akurat, andal, dan disajikan sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Pentingnya Ruang Lingkup Kontrol Internal:
- Membantu organisasi mencapai tujuannya.
- Melindungi aset organisasi.
- Meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasi organisasi.
- Meningkatkan keandalan pelaporan keuangan.
- Mencegah dan mendeteksi penipuan dan kesalahan.
Sumber : (https://www.gramedia.com/literasi/pengendalian-internal/,
https://www.kompasiana.com/aureolabeatriz/63af924e0788a30d3a4e3af2/sistem-pengendalian-internal-dan-hubungannya-dengan-ruang-lingkup-pemeriksaan,
dan https://www.petrosea.com/wp-content/uploads/2020/02/IA-Charter-2020_Ind.pdf
)
Komentar
Posting Komentar